Menggali Kecerdasan Jamak Melalui Bermain
Kuning lingkaran kecil,
Merah lingkaran sedang,
Biru lingkaran besar,
Berputar di tempat........
Multiple intelegence (kecerdasan jamak) adalah kemampuan untuk memecahkan
masalah atau melakukan sesuatu yang ada nilainya dalam kehidupan sehari-hari.
Kecerdasan bukan sesuatu yang dapat dilihat atau dihitung, melainkan potensi
sel otak yang aktif atau nonaktif tergantung pada pengalaman hidup sehari-hari,
baik di rumah, sekolah atau di tempat lain.
Menurut Gradner, kecerdasan jamak terdiri atas kecerdasan linguistic/verbal.
Yaitu, kemampuan anak dalam mengolah bahasa; memiliki kepekaan dalam memahami
struktur, arti, dan penggunaan bahasa baik tertulis maupun tidak (anak sangat
cepat mengingat kata baru, suka berbicara, selalu ingin tahu tentang sesuatu
yang baru, dan sejenisnya).
Kecerdasan logis-matematika, yaitu kemampuan anak mengatur pola pikir induktif
dan dedukatif, bekerja dengan pola abstrak, serta berpikir logis (ciri yang
menonjol pada anak yaitu selau ingin tahu dan bertanya mengapa ini dan mengapa
itu, cepat mengingat deretan angka, mudah memahai sebab akibat dan sebagainya).
Kercedasan spasial, yaitu anak mempunyai kemampuan yang tinggi di bidang
pengamatan dan kemampuan untuk berpikir, punya kemampuan membayangkan ruang,
melukiskan kembali, mengubah atau memodifikasi bayangan melalui ruangan.
Kecerdasan kinestetik, yaitu kemapuan olah tubuh anak dalam mengekspresikan
gagasan dan emosi melalui gerakan, termasuk kemampuan untuk menangani suatu
benda dengan cekatan dan membuat sesuatu. Ini ditandai dengan kebiasaan anak
yang suka bergerak, suka menyentuh segala sesuatu, bermain dengan jari atau
belajar bahasa isyarat.
Kecerdasan musikal, yaitu kemampuan anak yang tinggi dalam menangkap aspek
bunyi secara mendalam, peka terhadap suara di sekitar. Biasanya anak senang
pada irama musik baik ketika belajar maupun beraktivitasnya yang lain.
Kecerdasan interpersonal, yaitu kemampuan anak untuk memahami dan berinteraksi
dengan orang lain secara efektif. Kecerdasan ini menuntun anak dalam memahami
bekerja sama dan berkomunikasi. Biasanya anak yang memiliki kecerdasan ini
sangat pandai bergaul, memiliki banyak teman. Mereka adalah pengamat yang baik,
berdiri tenang dan menepi namun tak satu hal pun yang luput dari pengamatannya.
Kecerdasan intrapersonal, kemampuan anak untuk membuat persepsi yang akurat
tentang diri sendiri dan memahaminya, memiliki kepekaan yang tinggi terhadap
nilai, tujuan dan perasaan. Mereka senang bekerja sendiri, namun tidak
ragu-ragu untuk berpartisipasi dalam kelompok. Kecerdasan naturalis, yaitu
kemampuan anak untuk memanfaatkan alam sekitar menjadi perhatian utamanya,
sangat peduli pada perubahan lingkungan sekitarnya, memahami tentang topik
sistem kehidupan. Kecerdasan ekstensial, yaitu kemampuan anak untuk menampilkan
kharisma diri mereka.
Bermain, suatu kegiatan yang dilakukan anak dengan atau tanpa mempergunakan
alat yang menghasilkan pengertian dan memberikan informasi, memberi kesenangan
dan mengembangkan imajinasi anak spontan dan tanpa beban.
Dunia anak adalah dunia bermain. Karena, selama rentang perkembangan usia dini
anak melakukan kegiatan dengan bermain, mulai dari bayi, balita hingga masa
kanak-kanak. Kebutuhan atau dorongan internal (terutama tumbuhnya sel saraf di
otak) sangat memungkinkan anak melakukan berbagai aktivitas bermain tanpa
mengenal lelah.
Bermain tentu menyenangkan dan merupakan suatu hal yang sangat menggembirakan
bagi jiwa dan emosi anak, karena pada masa-masa itulah mereka menemukan dunia
anak sebenarnya. Tetapi sering terjadi kesalahan fatal yang dilakukan orangtua,
guru dan pengasuh terhadap anak. Mereka salah mengartikan tentang pentingnya
bermain pada usia kanak-kanak. Di sinilah sebenarnya diperlukan pengetahuan dan
kejelian mereka untuk menangkap masa tumbuh kembang anak dengan kecerdasan yang
luar biasa.
Atas dasar kondisi itu, maka bermain sambil belajar merupakan prinsip utama
dalam mengembangkan segala potensi anak dini usia melalui stimulasi pendidikan.
Bermain sambil belajar bukan bermain bebas atau bermain sesat, melainkan suatu
aktivitas yang dirancang secara terprogram dan mengandung esensi tujuan yang
jelas. Dengan bermain sambil belajar tidak akan membosankan anak, karena dalam
bermain anak mendapatkan pengalaman yang positif dalam perkembangan diri dan
emosinya, melalui alat permainan, teman, orangtua dan alam sekitar.
Selama ini jika anak sudah bersekolah di taman kanak-kanak, orangtua kebanyakan
membebani anak dengan tuntutan yang berat. Seperti, anak harus sudah pandai
menulis, berhitung dan membaca. Padahal anak usia taman kanak-kanak masih
termasuk usia dini yaitu 0-6 tahun. Begitu juga dengan pihak sekolah. Ada
sebagian sekolah yang dalam kegiatan pembelajaran tidak menggunakan konsep
bermain dengan benar, sehingga tujuan bermain bagi anak tidak tercapai.
Seharusnya taman kanak-kanak dalam aktivitas belajar benar-benar menerapkan
moto mereka: "Bermain sambil belajar, belajar seraya bermain". Denagn demikian,
anak benar-benar merasakan dunianya dengan sempurna, berkesempatan
mengembangkan segala aspek kecerdasan yang ada pada dirinya.
Dalam kegiatan bermain sebenarnya anak menemukan pembelajaran yang hakiki. Oleh
karena itu, jangan ada pemaksaan terhadap anak. Tidak seperti orang dewasa,
anak usia dini dalam mengartikan belajar. Mereka tidak selalu harus dengan
keadaan yang teratur dan berjangka waktu tertentu. Anak-anak belajar bisa saja
sambil berlari-larian atau lewat nyanyian. Seperti lagu sederhana di atas, bagi
anak merupakan satu sarana transformasi pengetahuan. Dengan lagu itu anak
mengenal warna, bentuk, ukuran dan tempat. Melalui lagu dan permainan anak
dirangsang mengeksplorasi segala bentuk kecerdasan jamak yang ia miliki,
sehingga potensi yang terpendam di dirinya dapat terangkat dengan optimal.
Menurut hasil penelitian ilmiah yang menjadi kesepakatan internasional, usia
dini itu 0-8 tahun. Tapi di Indonesia, berdasarkan UU No 20/2003, usia dini
adalah 0-6 tahun. Sedangkan usia 7-8 tahun sudah memasuki SD. Berarti anak TK
usia 4-5 tahun masih termasuk anak usia dini.
Prof Dr Lexy J Moleong dalam wawancara sebuah majalah beberapa waktu lalu,
menegaskan tentang pengertian belajar pada anak usia dini. Menurut ia, belajar
pada anak usia dini bukan dalam arti kongkret tetapi melalui bermain. Karena
bermain adalah satu- satunya sarana paling tepat untuk anak melakukan
eksplorasi dunianya. Anak usia TK seharusnya jangan dulu dipaksakan belajar
membaca, berhitung dan menulis, apalagi dengan adanya PR (pekerjaan rumah),
katanya.
Dalam kegiatan bermain, semua aspek kecerdasan anak terpancing untuk
berkembang. Bermain pada hakikatnya merupakan pengalaman langsung yang efektif
dilakukan anak usia dini dengan dan tanpa alat permainan, (Olson, Bruner,
Heinich et al: 1996). Bagi anak, ini merupakan kesempatan yang menyenangkan, ia
melakukan dengan senang hati dan suka rela. Ketika bermain, anak dengan spontan
bereksplorasi, menemukan sendiri hal-hal yang sangat membanggakannya. Dengan
bermain anak juga mengembangkan diri dalam berbagai perkembangan emosi, fisik
dan intelektualnya (Dockett: 1960).
Menurut Piaget, anak memiliki empat tahap dalam bermain, yaitu sensorimotor
(muncul sebelum perkembangan bahasa dimulai), praoperasional (sebelum usia 2-7
tahun), operasi konkret (usia antara 7-12 tahun), operasi formal (terjadi pada
usia di atas 12 tahun). Selanjutnya dalam perkembangan anak mulai dari usia
paling muda, mereka memulai bermain dengan sebelas cara.
Kuning lingkaran kecil,
Merah lingkaran sedang,
Biru lingkaran besar,
Berputar di tempat........
Multiple intelegence (kecerdasan jamak) adalah kemampuan untuk memecahkan
masalah atau melakukan sesuatu yang ada nilainya dalam kehidupan sehari-hari.
Kecerdasan bukan sesuatu yang dapat dilihat atau dihitung, melainkan potensi
sel otak yang aktif atau nonaktif tergantung pada pengalaman hidup sehari-hari,
baik di rumah, sekolah atau di tempat lain.
Menurut Gradner, kecerdasan jamak terdiri atas kecerdasan linguistic/verbal.
Yaitu, kemampuan anak dalam mengolah bahasa; memiliki kepekaan dalam memahami
struktur, arti, dan penggunaan bahasa baik tertulis maupun tidak (anak sangat
cepat mengingat kata baru, suka berbicara, selalu ingin tahu tentang sesuatu
yang baru, dan sejenisnya).
Kecerdasan logis-matematika, yaitu kemampuan anak mengatur pola pikir induktif
dan dedukatif, bekerja dengan pola abstrak, serta berpikir logis (ciri yang
menonjol pada anak yaitu selau ingin tahu dan bertanya mengapa ini dan mengapa
itu, cepat mengingat deretan angka, mudah memahai sebab akibat dan sebagainya).
Kercedasan spasial, yaitu anak mempunyai kemampuan yang tinggi di bidang
pengamatan dan kemampuan untuk berpikir, punya kemampuan membayangkan ruang,
melukiskan kembali, mengubah atau memodifikasi bayangan melalui ruangan.
Kecerdasan kinestetik, yaitu kemapuan olah tubuh anak dalam mengekspresikan
gagasan dan emosi melalui gerakan, termasuk kemampuan untuk menangani suatu
benda dengan cekatan dan membuat sesuatu. Ini ditandai dengan kebiasaan anak
yang suka bergerak, suka menyentuh segala sesuatu, bermain dengan jari atau
belajar bahasa isyarat.
Kecerdasan musikal, yaitu kemampuan anak yang tinggi dalam menangkap aspek
bunyi secara mendalam, peka terhadap suara di sekitar. Biasanya anak senang
pada irama musik baik ketika belajar maupun beraktivitasnya yang lain.
Kecerdasan interpersonal, yaitu kemampuan anak untuk memahami dan berinteraksi
dengan orang lain secara efektif. Kecerdasan ini menuntun anak dalam memahami
bekerja sama dan berkomunikasi. Biasanya anak yang memiliki kecerdasan ini
sangat pandai bergaul, memiliki banyak teman. Mereka adalah pengamat yang baik,
berdiri tenang dan menepi namun tak satu hal pun yang luput dari pengamatannya.
Kecerdasan intrapersonal, kemampuan anak untuk membuat persepsi yang akurat
tentang diri sendiri dan memahaminya, memiliki kepekaan yang tinggi terhadap
nilai, tujuan dan perasaan. Mereka senang bekerja sendiri, namun tidak
ragu-ragu untuk berpartisipasi dalam kelompok. Kecerdasan naturalis, yaitu
kemampuan anak untuk memanfaatkan alam sekitar menjadi perhatian utamanya,
sangat peduli pada perubahan lingkungan sekitarnya, memahami tentang topik
sistem kehidupan. Kecerdasan ekstensial, yaitu kemampuan anak untuk menampilkan
kharisma diri mereka.
Bermain, suatu kegiatan yang dilakukan anak dengan atau tanpa mempergunakan
alat yang menghasilkan pengertian dan memberikan informasi, memberi kesenangan
dan mengembangkan imajinasi anak spontan dan tanpa beban.
Dunia anak adalah dunia bermain. Karena, selama rentang perkembangan usia dini
anak melakukan kegiatan dengan bermain, mulai dari bayi, balita hingga masa
kanak-kanak. Kebutuhan atau dorongan internal (terutama tumbuhnya sel saraf di
otak) sangat memungkinkan anak melakukan berbagai aktivitas bermain tanpa
mengenal lelah.
Bermain tentu menyenangkan dan merupakan suatu hal yang sangat menggembirakan
bagi jiwa dan emosi anak, karena pada masa-masa itulah mereka menemukan dunia
anak sebenarnya. Tetapi sering terjadi kesalahan fatal yang dilakukan orangtua,
guru dan pengasuh terhadap anak. Mereka salah mengartikan tentang pentingnya
bermain pada usia kanak-kanak. Di sinilah sebenarnya diperlukan pengetahuan dan
kejelian mereka untuk menangkap masa tumbuh kembang anak dengan kecerdasan yang
luar biasa.
Atas dasar kondisi itu, maka bermain sambil belajar merupakan prinsip utama
dalam mengembangkan segala potensi anak dini usia melalui stimulasi pendidikan.
Bermain sambil belajar bukan bermain bebas atau bermain sesat, melainkan suatu
aktivitas yang dirancang secara terprogram dan mengandung esensi tujuan yang
jelas. Dengan bermain sambil belajar tidak akan membosankan anak, karena dalam
bermain anak mendapatkan pengalaman yang positif dalam perkembangan diri dan
emosinya, melalui alat permainan, teman, orangtua dan alam sekitar.
Selama ini jika anak sudah bersekolah di taman kanak-kanak, orangtua kebanyakan
membebani anak dengan tuntutan yang berat. Seperti, anak harus sudah pandai
menulis, berhitung dan membaca. Padahal anak usia taman kanak-kanak masih
termasuk usia dini yaitu 0-6 tahun. Begitu juga dengan pihak sekolah. Ada
sebagian sekolah yang dalam kegiatan pembelajaran tidak menggunakan konsep
bermain dengan benar, sehingga tujuan bermain bagi anak tidak tercapai.
Seharusnya taman kanak-kanak dalam aktivitas belajar benar-benar menerapkan
moto mereka: "Bermain sambil belajar, belajar seraya bermain". Denagn demikian,
anak benar-benar merasakan dunianya dengan sempurna, berkesempatan
mengembangkan segala aspek kecerdasan yang ada pada dirinya.
Dalam kegiatan bermain sebenarnya anak menemukan pembelajaran yang hakiki. Oleh
karena itu, jangan ada pemaksaan terhadap anak. Tidak seperti orang dewasa,
anak usia dini dalam mengartikan belajar. Mereka tidak selalu harus dengan
keadaan yang teratur dan berjangka waktu tertentu. Anak-anak belajar bisa saja
sambil berlari-larian atau lewat nyanyian. Seperti lagu sederhana di atas, bagi
anak merupakan satu sarana transformasi pengetahuan. Dengan lagu itu anak
mengenal warna, bentuk, ukuran dan tempat. Melalui lagu dan permainan anak
dirangsang mengeksplorasi segala bentuk kecerdasan jamak yang ia miliki,
sehingga potensi yang terpendam di dirinya dapat terangkat dengan optimal.
Menurut hasil penelitian ilmiah yang menjadi kesepakatan internasional, usia
dini itu 0-8 tahun. Tapi di Indonesia, berdasarkan UU No 20/2003, usia dini
adalah 0-6 tahun. Sedangkan usia 7-8 tahun sudah memasuki SD. Berarti anak TK
usia 4-5 tahun masih termasuk anak usia dini.
Prof Dr Lexy J Moleong dalam wawancara sebuah majalah beberapa waktu lalu,
menegaskan tentang pengertian belajar pada anak usia dini. Menurut ia, belajar
pada anak usia dini bukan dalam arti kongkret tetapi melalui bermain. Karena
bermain adalah satu- satunya sarana paling tepat untuk anak melakukan
eksplorasi dunianya. Anak usia TK seharusnya jangan dulu dipaksakan belajar
membaca, berhitung dan menulis, apalagi dengan adanya PR (pekerjaan rumah),
katanya.
Dalam kegiatan bermain, semua aspek kecerdasan anak terpancing untuk
berkembang. Bermain pada hakikatnya merupakan pengalaman langsung yang efektif
dilakukan anak usia dini dengan dan tanpa alat permainan, (Olson, Bruner,
Heinich et al: 1996). Bagi anak, ini merupakan kesempatan yang menyenangkan, ia
melakukan dengan senang hati dan suka rela. Ketika bermain, anak dengan spontan
bereksplorasi, menemukan sendiri hal-hal yang sangat membanggakannya. Dengan
bermain anak juga mengembangkan diri dalam berbagai perkembangan emosi, fisik
dan intelektualnya (Dockett: 1960).
Menurut Piaget, anak memiliki empat tahap dalam bermain, yaitu sensorimotor
(muncul sebelum perkembangan bahasa dimulai), praoperasional (sebelum usia 2-7
tahun), operasi konkret (usia antara 7-12 tahun), operasi formal (terjadi pada
usia di atas 12 tahun). Selanjutnya dalam perkembangan anak mulai dari usia
paling muda, mereka memulai bermain dengan sebelas cara.
1. Sensorimotor:
bermain dengan penginderaan dan anggota badan.
bermain dengan penginderaan dan anggota badan.
2. Bermain fungsional: bermain
dengan menggunakan anggota tubuhnya.
dengan menggunakan anggota tubuhnya.
3. Bermain pengamatan: anak tidak bermain
ia hanya mengamati. Dengan melihat anak lain bermain, ia sudah puas.
ia hanya mengamati. Dengan melihat anak lain bermain, ia sudah puas.
4. Bermain
pasif, mereka melakukan kegiatan tanpa gerakan aktif. Contohnya menonton acara
TV, mendengarkan musik dan sebagainya.
pasif, mereka melakukan kegiatan tanpa gerakan aktif. Contohnya menonton acara
TV, mendengarkan musik dan sebagainya.
5. Bermain aktif: anak bermain dengan
keaktifan anggota tubuhnya.
keaktifan anggota tubuhnya.
6. Bermain soliter: bermain sendiri tanpa
membutuhkan teman.
membutuhkan teman.
7. Bermain pararel:
bermain berdekatan dengan anak yang
lain, namun tidak ada interaksi anatara keduanya (anak bermain berda
mpingan).
lain, namun tidak ada interaksi anatara keduanya (anak bermain berda
mpingan).
8. Bermain sosial:
bermain bersama teman dengan interaksi dan
sosialisasi (anak bermain berhadapan).
sosialisasi (anak bermain berhadapan).
9. Bermain kooperatif:
bermain bersama teman dengan peran dan tugas masing-masing.
10. Bermain peran:
bermain dengan memerankan berbagai profesi, atau benda. Pada poin ini terjadi mega komunikasi,
di mana anak mampu berbicara melebihi kemampuannya dalam menggambarkan situasi
yang sebenarnya.
di mana anak mampu berbicara melebihi kemampuannya dalam menggambarkan situasi
yang sebenarnya.
11. Bermain simbolik:
anak bermain dengan simbol berupa berbagai pesan.
Fungsi bermain bagi anak adalah inti dari belajar. Melalui bermain anak
mengembangkan dan berlatih keterampilan, belajar memahami bagaimana kerja
segala hal yang ada di dunia ini, membanguan pemahaman dan pengetahuan. Dengan
bermain, anak berinteraksi sesuai caranya sendiri seperti penjelajahan,
melakukan pilihan dan berbuat salah, mengalami sebab akibat dan have fun.
Anak dikatakan bermain jika memenuhi kriteria self chosen dan self directed.
Anak yang kompeten dan berpengalaman dalam bermain akan menjadi pelajar yang
kreatif, pede, dan memiliki motivasi diri. Yang utama, bermain adalah kerja
bagi anak.
Dengan bermain anak tidak hanya menyerap informasi tapi mereka juga bekerja
dengan informasi tersebut, bagaimana aplikasinya dan terus melakukan percobaan
berulang-ulang sampai informasi tersebut dimengerti anak.
Ketika bermain, fisik anak juga belajar memahami bagaimana kerja tubuhnya,
memperkuat dan mengembangkan otot dan kordinasinya melalui gerak, melatih
motorik halusnya (memungut benda-benda kecil, biji-bijian, potongan kertas
kecil dan sebagainya). Begitu juga dengan motorik kasar dan keseimbangan,
misalnya koprol, memanjat, berlari, jalan dan lain-lain.
Di dalam kegiatan bermain anak juga mengembangkan keterampilan emosinya, rasa
percaya diri pada orang lain, kemandirian dan keberanian untuk berinisiatif.
Bermain pura-pura menjadi orang lain, binatang, atau karakter orang lain
merupakan tahapan yang sangat menonjol. Anak belajar melihat dari sisi orang
lain (empati). Misalnya anak bermasalah ketika dibawa ke dokter, orangtua dapat
bermain pura-pura untuk mengatasi rasa ketakutan anak.
Dalam bermain anak mendapatkan penemuan intelektual. Misal, anak bermain
mengisi dan mengosongkan botol, anak belajar volume, dan lain-lain. Kelebihan
lain yang didapat anak dalam bermain adalah berkembangnya multiple intelegen
(kecerdasan jamak).
Dari uraian di atas dapat diambil kesimpulan, bermain adalah sarana melatih
keterampilan yang dibutuhkan anak untuk menjadi individual yang kompeten.
Bermain adalah pengalaman multi dimensi yang melibatkan semua indera dan
menggugah kecerdasan jamak seseorang. Selain itu bermain memberikan situasi
aman, bebas ancaman bagi anak, di mana anak berani menjelajahi dan mulai
memahami dunia orang tua.
Bermain membantu anak mengurangi stres, dan mengembangkan rasa humornya.
Bermain merupakan kendaraan untuk belajar bagaimana belajar (learning how to
learn). Melalui bermain anak bertanya, meneliti lingkungan, belajar mengambil
keputusan, berlatih peran sosial. Dan, secara umum memperkuat seluruh aspek
kehidupan anak yang membuat anak menyadari kemampuan dan kelebihannya.
Tugas kita orangtua dan pengajar khususnya guru taman kanak-kanak, benar-benar
memahami pengertian dan manfaat bermain bagi anak. Jangan sampai terjadi
kesalahan dalam memberikan arahan dan bimbingan dalam masa pembelajarna melalui
bermain. Mari kita ciptakan tunas muda yang berkualitas tinggi, demi mencapai
cita-cita bersama menjadi generasi penerus bangsa yang unggul dan bermartabat.
Fungsi bermain bagi anak adalah inti dari belajar. Melalui bermain anak
mengembangkan dan berlatih keterampilan, belajar memahami bagaimana kerja
segala hal yang ada di dunia ini, membanguan pemahaman dan pengetahuan. Dengan
bermain, anak berinteraksi sesuai caranya sendiri seperti penjelajahan,
melakukan pilihan dan berbuat salah, mengalami sebab akibat dan have fun.
Anak dikatakan bermain jika memenuhi kriteria self chosen dan self directed.
Anak yang kompeten dan berpengalaman dalam bermain akan menjadi pelajar yang
kreatif, pede, dan memiliki motivasi diri. Yang utama, bermain adalah kerja
bagi anak.
Dengan bermain anak tidak hanya menyerap informasi tapi mereka juga bekerja
dengan informasi tersebut, bagaimana aplikasinya dan terus melakukan percobaan
berulang-ulang sampai informasi tersebut dimengerti anak.
Ketika bermain, fisik anak juga belajar memahami bagaimana kerja tubuhnya,
memperkuat dan mengembangkan otot dan kordinasinya melalui gerak, melatih
motorik halusnya (memungut benda-benda kecil, biji-bijian, potongan kertas
kecil dan sebagainya). Begitu juga dengan motorik kasar dan keseimbangan,
misalnya koprol, memanjat, berlari, jalan dan lain-lain.
Di dalam kegiatan bermain anak juga mengembangkan keterampilan emosinya, rasa
percaya diri pada orang lain, kemandirian dan keberanian untuk berinisiatif.
Bermain pura-pura menjadi orang lain, binatang, atau karakter orang lain
merupakan tahapan yang sangat menonjol. Anak belajar melihat dari sisi orang
lain (empati). Misalnya anak bermasalah ketika dibawa ke dokter, orangtua dapat
bermain pura-pura untuk mengatasi rasa ketakutan anak.
Dalam bermain anak mendapatkan penemuan intelektual. Misal, anak bermain
mengisi dan mengosongkan botol, anak belajar volume, dan lain-lain. Kelebihan
lain yang didapat anak dalam bermain adalah berkembangnya multiple intelegen
(kecerdasan jamak).
Dari uraian di atas dapat diambil kesimpulan, bermain adalah sarana melatih
keterampilan yang dibutuhkan anak untuk menjadi individual yang kompeten.
Bermain adalah pengalaman multi dimensi yang melibatkan semua indera dan
menggugah kecerdasan jamak seseorang. Selain itu bermain memberikan situasi
aman, bebas ancaman bagi anak, di mana anak berani menjelajahi dan mulai
memahami dunia orang tua.
Bermain membantu anak mengurangi stres, dan mengembangkan rasa humornya.
Bermain merupakan kendaraan untuk belajar bagaimana belajar (learning how to
learn). Melalui bermain anak bertanya, meneliti lingkungan, belajar mengambil
keputusan, berlatih peran sosial. Dan, secara umum memperkuat seluruh aspek
kehidupan anak yang membuat anak menyadari kemampuan dan kelebihannya.
Tugas kita orangtua dan pengajar khususnya guru taman kanak-kanak, benar-benar
memahami pengertian dan manfaat bermain bagi anak. Jangan sampai terjadi
kesalahan dalam memberikan arahan dan bimbingan dalam masa pembelajarna melalui
bermain. Mari kita ciptakan tunas muda yang berkualitas tinggi, demi mencapai
cita-cita bersama menjadi generasi penerus bangsa yang unggul dan bermartabat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar